Sains dan Teknologi

Semarang Tenggelam Cepat

Sebuah tantangan ekonomi, sosial dan perubahan iklim.

 

 

Tiga tahun setelah penelitian-penelitian gabungan pertama antara Universitas Diponegoro dan CEREMA, akhirnya pada 2015 mereka berhasil membukakan mata para pejabat daerah dan nasional tentang risiko bencana pesisir yang melanda Kota Semarang.

Dengan penurunan permukaan tanah sebanyak 8 cm setiap tahunnya dan kenaikan permukaan laut hampir 10 cm setiap dasawarsa, Semarang kini dilanda banjir permanen. Tanah aluvial setebal 80 m secara alamiah memang lunak, namun penurunannya diperparah lagi dengan berbagai aktivitas manusia, di antaranya pembangunan kota, penggunaan air tanah dan pengrusakan alam. Fenomena ini pun menjadi sedemikian cepat terjadi dan masyarakat tidak siap.

Dengan pendekatan yang disepakati bersama dan terkoordinasi, sebuah program kini tengah diluncurkan untuk mengevaluasi persoalan ini secara menyeluruh guna mendapatkan solusi tepat guna yang dapat diusahakan dalam 3 tahun ke depan. Solusi prioritas tentunya yang menyangkut pekerjaan-pekerjaan besar yang dilakukan secara kontinu untuk mencegah masalah-masalah yang sudah teridentifikasi semakin memburuk. Contohnya, penurunan permukaan jalan dan bangunan, pengeringan cadangan air tanah dan hilangnya kanal-kanal. Pendekatan sosial juga diperlukan, ditambah lagi pengalaman serupa yang dihadapi Provinsi Somme, Prancis, yaitu bencana banjir besar pada 2001.