Diskusi

Diaspora Maritim Suku Bajo Indonesia: Mengurai Sejarah Lewat Bahasa

17 Mei 2017 | 17.30
Auditorium IFI Thamrin

Jalan M.H. Thamrin No.20

GRATIS (dengan reservasi)

RSVP : reservation@ifi-id.com

Suku Bajo (Sama-Bajau) dapat ditemukan terpencar dalam sejumlah desa yang terletak di sepanjang pesisir wilayah Timur Indonesia, Selatan Filipina (Kepulauan Sulu) dan Utara Kalimantan (Provinsi Sabah, Malaysia). Rumpun bahasa Sama-Bajau, yang menghimpun belasan bahasa, menunjukkan bahwa kelompok-kelompok masyarakat Sama-Bajau berasal dari bangsa dan wilayah yang sama. Migrasi suku Sama-Bajau mulai terjadi pada masa pra kolonialisasi dan dalam beberapa gelombang. Beberapa kelompok kemudian menjadi suku nomaden perairan.

 

Kenangan mengenai tanah leluhur Sama-Bajau sama sekali telah terlupakan seiring berlangsungnya gelombang-gelombang migrasi. Tradisi lisan Sama-Bajau mengisyaratkan berbagai tanah leluhur, utamanya di Semenanjung Malaysia, namun tidak ada argumen ilmiah yang dapat membuktikan cerita-cerita tersebut. Meski begitu, mitos mengenai asal-usul Sama-Bajau menunjukkan motif yang sama, yaitu pengasingan dan pembuangan.

 

Pertanyaan mengenai asal-usul ini pun mengusik keingintahuan orang Sama-Bajau sendiri. Tidak seperti suku maritim lainnya, terutama Bugis, orang-orang Sama-Bajau tidak bisa menunjukkan asal-usul yang pasti, bahkan tidak sebuah desa ataupun monumen simbolik. Diaspora mereka tidak meninggalkan satu pun dokumen sejarah dan petunjuk arkeologis, hanya bahasa dan gen merekalah yang dapat dijadikan acuan untuk menapak jejak migrasi mereka hingga ke tanah leluhur mereka.

 

Dalam seminar ini, Philippe Grangé akan menunjukkan data-data linguistik dan genom (penelitian-penelitian bersama yang sedang berjalan saat ini dengan ahli genetik dari Universitas Toulouse dan Eijkmann Institute di Jakarta). Menjadi orang Bajo hari ini tidak sekadar sebuah identitas budaya, namun juga warisan genetik. Hasil-hasil dari berbagai studi genom terbaru menunjukkan bahwa masyarakat Bajo Indonesia pernah lama hidup bersama masyarakat Bugis. Tidak hanya itu, ditemukan pula pembawaan gen yang amat beragam.

 

Namun, sebelum diaspora mereka, berasal dari manakah orang-orang Sama-Bajo? Philippe Grangé menawarkan sebuah skenario pengembaraan panjang orang-orang Bajo yang berawal sejak seribu tahun mulai dari muara Sungai Barito (Kalimantan Selatan) sampai ke pantai-pantai di Indonesia Timur, Sabah dan Sulu.

 

Pembicara

Philippe Grangé, lahir tahun 1962, menggemari Indonesia sejak ia ditugaskan di Bandung pada tahun 1982-1985 sebagai sukarelawan internasional.

 

Pernah berprofesi sebagai pengajar bahasa Prancis dan rekanan Lettres Modernes, Philippe Grangé meraih gelar doktornya dengan disertasi mengenai "Temps et aspect en indonésien".

 

Ia kini bekerja sebagai dosen linguistik dan bahasa Indonesia di Universitas La Rochelle dan mengepalai Institut Universitaire Asie-Pacifique di sana. Ia juga koordinator program kerja sama desentralisasi antara CdA de La Rochelle dan Kota Kendari (Sulawesi Tenggara, Indonesia).

 

Tema-tema penelitiannya sekarang ini adalah "Sintaksis dan Semantik Bahasa Indonesia" dan "Studi Diakronik Bahasa Bajo Indonesia".